Sejarah Indonesia menunjukkan sejumlah momen dimana publikasi tekstual menjadi ujung tombak perubahan. Mulai dari pamflet anti-kolonial, (auto)biografi, opini media massa, maupun polemik terbuka; semuanya menunjukkan bahwa publikasi adalah proses dialog di mana pengetahuan berbenturan, berkolaborasi, atau melahirkan keingintahuan baru. Sayangnya, di masa kini, kita semakin dihadapkan pada kenyataan bahwa publikasi tidak lagi semata-mata didorong oleh kesetiaan pada pengetahuan, tetapi pada faktor artifisial lainnya. Istilah publikasi akademik membuat kita semakin bertanya-tanya, apakah arti ‘akademik’ itu, sejak ranah akademik itu sendiri menjadi sangat bergantung pada kapital yang diterjemahkan menjadi ranking, kum dosen, pemeringkatan, dan akreditasi. Alih-alih menciptakan polemik atau dialog melalui publikasi ilmiah, para akademisi semakin terobsesi dengan peringkat yang dapat dicapai melalui publikasi tersebut. Publikasi menjadi ruang individualis yang membuat kita semakin jauh dari kesadaran bahwa pengetahuan adalah proses interaksi, dialog, dan pergesekan, bukan proses kontemplasi di ruang hampa ala Newton yang tercerahkan ketika melihat apel jatuh dari pohonnya lalu menemukan teori gravitasi. Dengan demikian, pengetahuan akademik kehilangan basis kolektif, pergerakan, dan transformasi yang semula diperjuangkan dalam sejarah Indonesia.
Copyrights © 2025