Perkembangan emisi sukuk korporasi di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan nilai emisi mencapai Rp173.370 miliar pada tahun 2025. Meskipun demikian, penelitian terdahulu mengenai determinan makroekonomi emisi sukuk masih menunjukkan hasil yang tidak konsisten dan belum secara komprehensif membedakan pengaruh dalam jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh harga minyak dunia, harga emas dunia, BI rate, inflasi, dan IHSG terhadap emisi sukuk korporasi di Indonesia dengan membedakan dinamika jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian menggunakan data sekunder bulanan periode 2011–2025 dan metode Vector Error Correction Model (VECM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang hanya inflasi yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap emisi sukuk, sedangkan harga minyak dunia, harga emas dunia, BI rate, dan IHSG tidak berpengaruh signifikan. Jangka pendek, BI rate dan inflasi berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan harga minyak dunia, harga emas dunia, dan IHSG tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa inflasi merupakan faktor makroekonomi yang paling konsisten berkaitan dengan emisi sukuk pada kedua horizon waktu, sementara pengaruh BI Rate bersifat jangka pendek. Kebaruan penelitian terletak pada pengujian simultan lima variabel dengan membedakan dinamika jangka pendek dan jangka panjang pada emisi sukuk korporasi Indonesia menggunakan data bulanan 2011–2025. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan memberikan bukti bahwa sensitivitas emisi sukuk terhadap faktor makroekonomi berbeda menurut jenis variabel dan jangka waktu, serta memberikan implikasi bagi regulator dan pelaku pasar dalam mempertimbangkan kondisi makroekonomi dalam pengembangan pasar sukuk korporasi.
Copyrights © 2026