Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense merupakan ancaman serius bagi keberlanjutan perkebunan kelapa sawit Indonesia. Sebagai strategi preventif, pergiliran tanaman (crop rotation) dengan karet berpotensi memutus siklus penyakit. Namun, implementasinya terkendala oleh siklus investasi karet yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan ekonomi model pergiliran sawit-karet dengan menerapkan periode penyadapan karet yang dipersingkat. Analisis dilakukan melalui simulasi delapan skenario yang memvariasikan frekuensi sadap (d3 dan d4), model tataguna panel (sadap atas dan konvensional), serta populasi tanaman (550 dan 600 pohon/ha), dengan siklus produksi 12 tahun. Kelayakan finansial dievaluasi menggunakan parameter Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Gross Benefit/Cost (B/C) Ratio, dan Payback Period (PBP). Hasil menunjukkan bahwa semua skenario layak secara finansial. Kombinasi frekuensi sadap d3 dengan sistem sadap arah atas (Simulasi 5-8) menghasilkan performa terbaik, dengan produktivitas karet 23.581–25.003 kg/ha/siklus, pendapatan tahunan Rp63–67 juta/ha, serta parameter finansial unggul (NPV Rp23,8–38,2 miliar; IRR 14,6–17,8%; B/C Ratio 1,79–1,93; PBP 10,1–11,6 tahun). Model tataguna panel dan frekuensi sadap berpengaruh signifikan terhadap hasil, sementara variasi populasi tanaman tidak. Disimpulkan bahwa model pergiliran dengan periode penyadapan singkat yang mengoptimalkan frekuensi d3 dan teknik sadap arah atas tidak hanya layak dan menarik secara investasi, tetapi juga berpotensi sebagai strategi break crop yang efektif untuk mengendalikan Ganoderma.
Copyrights © 2026