Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan menurut umur berada di bawah standar WHO dan berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta produktivitas di masa mendatang. Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Lolomatua Kabupaten Nias Selatan pada tahun 2025 ditemukan 27 balita stunting dari 497 balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas Lolomatua Kabupaten Nias Selatan tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain case control. Sampel penelitian terdiri dari 81 responden yang terdiri atas 27 kasus stunting dan 54 kontrol. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan ibu, pola asuh, akses sanitasi, sosial ekonomi, dan pemberian ASI eksklusif. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu (p=0,000; OR=4,5), pola asuh (p=0,000), akses sanitasi (p=0,000; OR=6,3), sosial ekonomi (p=0,000; OR=18,9), dan pemberian ASI eksklusif (p=0,000; OR=6,4) dengan kejadian stunting pada balita. Faktor sosial ekonomi merupakan faktor yang memiliki risiko terbesar terhadap kejadian stunting dengan nilai OR sebesar 18,9, yang menunjukkan bahwa keluarga dengan status sosial ekonomi rendah memiliki risiko 18,9 kali lebih besar memiliki balita stunting dibandingkan keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi. Pengetahuan ibu, pola asuh, akses sanitasi, sosial ekonomi, dan pemberian ASI eksklusif berhubungan dengan kejadian stunting pada balita.
Copyrights © 2026