Formasi calon imam merupakan proses integral yang menghubungkan dimensi spiritual, manusiawi, intelektual, dan pastoral. Tantangan budaya digital, individualisme, rutinitas rohani, serta dinamika komunitas dapat menimbulkan kesenjangan antara pemahaman konseptual tentang panggilan kekudusan dan penghayatannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan memperkuat formasi holistik frater calon imam melalui internalisasi spiritualitas panggilan kekudusan di Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar. Program menggunakan pendekatan pastoral-partisipatif melalui identifikasi kebutuhan, rekoleksi, pendalaman Kitab Suci, refleksi pengalaman iman, adorasi, pemeriksaan batin, sharing kelompok, pendampingan personal, dan penyusunan komitmen formasi. Evaluasi dirancang melalui pre-test dan post-test, observasi partisipatif, jurnal rohani, refleksi tertulis, serta monitoring berkala. Draf hasil menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari 53,8 menjadi 86,0 pada aspek spiritualitas panggilan, disiplin doa, kematangan manusiawi, hidup komunitas, dan kesiapan pastoral. Capaian kualitatif tampak pada meningkatnya kemampuan frater menghubungkan doa dengan aktivitas akademik, mengelola distraksi digital, menerima umpan balik, dan merumuskan pelayanan konkret. Program ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai lebih efektif ketika pembinaan mengintegrasikan pengalaman, refleksi, relasi pendampingan, dan evaluasi berkelanjutan. Keberlanjutan diarahkan melalui jurnal rohani, pendampingan formator, evaluasi komunitas, dan pengembangan modul formasi.
Copyrights © 2023