Kemerosotan etika komunikasi yang ditandai dengan munculnya fenomena silent treatment, miskomunikasi, dan keengganan menyampaikan perasaan secara terbuka telah menjadi salah satu tantangan moral dalam kehidupan masyarakat modern, khususnya di era digital. Fenomena tersebut tidak hanya memengaruhi kualitas hubungan interpersonal, tetapi juga membentuk pola interaksi yang sarat dengan konflik dan kesalahpahaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk nilai moral yang dimiliki tokoh utama, menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan munculnya nilai moral tersebut, serta mengkaji relevansinya dengan fenomena komunikasi modern dalam novel Nonversation karya Valerie Patkar. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologi sastra. Sumber data penelitian berupa teks novel Nonversation, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat. Analisis data dilaksanakan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasikan, menginterpretasikan, dan menarik kesimpulan berdasarkan temuan yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai moral yang paling dominan meliputi kesetiaan, kejujuran dalam mengungkapkan perasaan, keberanian meminta maaf, tanggung jawab, serta sikap saling menghargai sebagai bentuk etika hubungan manusia dengan diri sendiri dan sesama. Kemunculan nilai-nilai tersebut dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, pengalaman traumatis di masa lalu, serta dinamika konflik dalam hubungan percintaan tokoh. Penelitian ini juga membuktikan bahwa fenomena nonversation yang digambarkan dalam novel memiliki relevansi kuat dengan praktik silent treatment yang banyak terjadi pada komunikasi digital saat ini. Temuan penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan dalam penguatan pendidikan karakter, khususnya terkait etika komunikasi, penyelesaian konflik secara sehat, serta pembentukan hubungan interpersonal yang harmonis di kalangan pembaca muda.
Copyrights © 2026