Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner menghadapi persaingan ketat, menuntut inovasi produk yang berkelanjutan agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar. Usaha kuliner SeoulDap, yang berfokus pada penjualan Gimbap siap saji, menghadapi tantangan karena citarasa asli Gimbap (gurih ringan) kurang sesuai dengan selera konsumen Indonesia yang menyukai rasa yang kuat dan berempah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji strategi diferensiasi produk melalui akulturasi budaya kuliner, yaitu dengan mengombinasikan Gimbap khas Korea dengan cita rasa lokal Indonesia. Solusi yang ditawarkan adalah menerapkan diferensiasi produk berbasis cita rasa lokal untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan minat beli konsumen. Metode yang digunakan meliputi riset pasar terbatas dan riset dan pengembangan (R&D) produk untuk menentukan formulasi isian, komposisi bumbu, dan standardisasi proses. Hasil inovasi berupa empat varian Gimbap baru: Rendang, Taichan, Jamur (untuk vegetarian/vegan), dan Crabstick (untuk yang tidak suka pedas). Strategi ini terbukti berhasil. Total penjualan varian Rendang dan Taichan mencapai 88% dari 57 box yang terjual selama lima hari bazar, menunjukkan adanya minat beli yang tinggi terhadap varian akulturasi rasa. Keberhasilan ini juga didukung oleh daya tarik visual yang menarik dan nilai fungsional produk (sehat, praktis, dan unik). Kesimpulannya, diferensiasi citarasa merupakan strategi manajemen pemasaran yang efektif untuk menciptakan identitas rasa unik, memperluas pasar, dan secara signifikan meningkatkan minat beli konsumen pada UMKM kuliner.
Copyrights © 2026