Latar Belakang: Sistem pembayaran berbasis kode QR, seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), telah berkembang pesat di Indonesia. Namun, keterbatasan literasi digital, kekhawatiran terhadap keamanan transaksi, dan kebiasaan bertransaksi secara tunai menyebabkan pelaku usaha mikro di Kota Kediri belum memanfaatkan QRIS secara optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerimaan QRIS pada usaha mikro di Kota Kediri menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) yang terdiri atas Perceived Ease of Use (PEU), Perceived Usefulness (PU), Attitude toward Behavior (ATB), Intention to Use (IU), dan Actual Usage (AU). Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatori. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada 190 pelaku usaha mikro yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS. Hasil: Empat dari lima hipotesis diterima. PEU tidak berpengaruh signifikan terhadap PU (koefisien 0,087; t-statistic 0,977; p-value 0,329), sedangkan PEU dan PU berpengaruh positif dan signifikan terhadap ATB dengan koefisien 0,459 dan 0,646. IU juga berpengaruh signifikan terhadap AU dengan koefisien 0,823. Kesimpulan: Persepsi terhadap QRIS menjadi faktor penting yang mendorong niat dan penggunaan aktual, tetapi kemudahan penggunaan belum meningkatkan persepsi manfaat secara signifikan. Cakupan penelitian terbatas pada wilayah tertentu sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan.
Copyrights © 2026