Penelitian ini menganalisis dampak kebijakan hilirisasi kakao (PMK No. 67/2010) terhadap kinerja ekspor dan daya saing lemak kakao (HS 1804) periode 1996-2024. Menggunakan metode Interrupted Time Series (ITS), Rasio Nilai Tambah, Revealed Comparative Advantage (RCA), dan Regresi Linier Berganda, hasil menunjukkan kebijakan ini efektif membalikkan tren ekspor biji mentah menjadi tren pertumbuhan positif produk olahan dengan rasio nilai tambah 2,13 kali lipat. Pemetaan RCA membuktikan Indonesia berhasil bertransformasi dari pemasok primer menjadi pesaing kuat di pasar global, dengan skor RCA lemak kakao mencapai puncaknya sebesar 16,34 pada tahun 2024. Uji regresi mengonfirmasi bahwa kebijakan dan harga ekspor relatif berpengaruh positif signifikan terhadap daya saing, sedangkan variabel produksi domestik tidak signifikan. Hal ini membuktikan adanya fenomena decoupling, di mana industri hilir menyiasati stagnasi pasokan hulu melalui substitusi impor biji kakao.
Copyrights © 2026