Pembentukan kelompok tani merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat kelembagaan pertanian dan meningkatkan kapasitas petani. Namun, tidak seluruh petani memberikan respons yang sama terhadap pembentukan kelompok tani. Fenomena tersebut terjadi pada petani kopi di Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung yang menunjukkan tingkat partisipasi yang relatif rendah dalam kelompok tani meskipun memiliki potensi usahatani kopi yang cukup besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rasionalitas petani kopi dalam merespons pembentukan kelompok tani serta mengkaji dinamika sosial yang membentuk tindakan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap petani kopi, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dan Sekretaris Desa Mekarmanik. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan teori tindakan sosial Max Weber sebagai pisau analisis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasionalitas instrumental merupakan bentuk tindakan sosial yang paling dominan dalam memengaruhi respons petani terhadap pembentukan kelompok tani. Petani cenderung menilai kelompok tani berdasarkan manfaat nyata yang dapat diperoleh bagi kegiatan usahataninya. Selain rasionalitas instrumental, ditemukan pula tindakan afektif, tindakan tradisional, dan rasionalitas nilai. Rasionalitas tersebut dibentuk oleh pengalaman negatif terhadap kelompok tani sebelumnya, rendahnya kepercayaan terhadap pengelolaan kelompok, kuatnya budaya usahatani individual, serta rendahnya partisipasi kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rendahnya partisipasi petani terhadap kelompok tani merupakan respons rasional terhadap kelembagaan yang dianggap belum mampu menjawab kebutuhan petani, bukan bentuk penolakan terhadap organisasi secara umum.
Copyrights © 2026