Kehilangan pangan pada komoditas hortikultura menjadi permasalahan penting dalam sistem pangan karena sayuran bersifat mudah rusak dan berpotensi mengalami kehilangan di setiap tahapan rantai pasok. Community Supported Agriculture (CSA) Tani Sauyunan merupakan sistem distribusi pangan alternatif di Kota Bandung yang menghubungkan petani mitra dengan konsumen melalui rantai pasok pendek. Meskipun sistem CSA secara teoritis berpotensi mengurangi kehilangan pangan, belum terdapat pemetaan menyeluruh mengenai besaran kehilangan pangan pada setiap tahapan distribusinya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi besaran kehilangan pangan yang terjadi pada setiap tahapan rantai pasok dalam sistem CSA Tani Sauyunan selama satu siklus distribusi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data kuantitatif diperoleh melalui penimbangan langsung pada setiap tahapan rantai pasok selama empat minggu pada dua petani mitra utama (P1 dan P2) pada bulan April 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total kehilangan pangan selama satu siklus distribusi mencapai 8,50% dari total berat panen yang diamati (130.937 gram). Tahap panen menjadi penyumbang kehilangan terbesar (6,03%), diikuti tahap pengemasan (2,07%), dan tahap transportasi (0,56%). P1 mencatat kehilangan 5,70%, sedangkan P2 mencatat kehilangan lebih tinggi (11,90%), terutama karena dominasi komoditas caisim yang sangat rentan terhadap serangan hama. Komoditas dengan kehilangan tertinggi adalah caisim (36,20%), siomak (21,22%), selada hijau/keriting (21,18%), dan selada romaine (17,46%). Temuan ini mengkonfirmasi bahwa sayuran berdaun memiliki risiko kehilangan tertinggi dalam sistem distribusi CSA.
Copyrights © 2026