Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, yang keberhasilannya sangat ditentukan oleh efektivitas pengelolaan rantai pasok pangan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan implementasi manajemen rantai pasok SPPG di wilayah perkotaan, moderat, dan terpencil guna memahami faktor penentu efektivitasnya. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif pada SPPG Bulak (Surabaya), SPPG Magetan, dan SPPG Tosari (Pasuruan) yang mewakili karakteristik wilayah berbeda, data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan, sementara data sekunder berasal dari dokumentasi resmi. Analisis deskriptif-komparatif dilakukan dengan kerangka Food Security (ketersediaan, akses, dan pemanfaatan pangan), yang diinterpretasikan melalui teori Manajemen Rantai Pasok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas rantai pasok SPPG dipengaruhi karakteristik wilayah masing-masing: SPPG Bulak unggul dalam integrasi jaringan pemasok dan efisiensi logistik perkotaan; SPPG Magetan menunjukkan keunggulan dalam pemanfaatan produksi pangan lokal dan kemitraan dengan pelaku usaha daerah; sementara SPPG Tosari, meskipun menghadapi keterbatasan infrastruktur wilayah terpencil, tetap mampu menjaga keberlangsungan layanan melalui kolaborasi pemangku kepentingan dan pemanfaatan potensi lokal secara optimal. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengembangkan konsep "Adaptive Regional Food Supply Chain," yang menegaskan bahwa kapasitas produksi pangan lokal, integrasi jaringan pemasok, kualitas infrastruktur logistik, kolaborasi antar pemangku kepentingan, dan kemampuan adaptasi terhadap karakteristik wilayah merupakan faktor utama penentu efektivitas Program MBG. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pengembangan teori Manajemen Rantai Pasok di sektor pangan publik dan menjadi dasar bagi perumusan kebijakan pengelolaan rantai pasok SPPG yang lebih adaptif, kontekstual, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.
Copyrights © 2026