Penelitian agama tidak hanya dilakukan melalui kajian terhadap doktrin dan praktik keagamaan yang berkembang pada masa kini, tetapi juga dapat dilakukan melalui penelusuran terhadap sumber-sumber historis dan material. Filologi dan arkeologi merupakan dua pendekatan yang memiliki peranan penting dalam merekonstruksi kehidupan keagamaan masyarakat masa lalu. Filologi berfokus pada kajian terhadap naskah lama melalui proses inventarisasi, deskripsi naskah, kritik teks, transliterasi, penyuntingan, penerjemahan, dan interpretasi isi. Sementara itu, arkeologi memanfaatkan tinggalan material seperti bangunan, situs, makam, artefak, relief, dan struktur ritual sebagai sumber untuk memahami kehidupan masyarakat masa lampau. Artikel ini bertujuan menjelaskan model penelitian filologi dan arkeologi serta kemungkinan integrasinya dalam studi agama. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah yang membahas penelitian filologi terhadap naskah keagamaan dan penelitian arkeologi terhadap praktik keagamaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa filologi dapat digunakan untuk merekonstruksi teks dan pemikiran keagamaan yang terdapat dalam manuskrip, sedangkan arkeologi dapat memberikan informasi mengenai praktik dan ekspresi keagamaan melalui bukti material. Integrasi kedua pendekatan tersebut dapat menghasilkan rekonstruksi sejarah agama yang lebih komprehensif karena sumber tekstual dapat dibandingkan dengan bukti material.
Copyrights © 2026