Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial kontemporer menuntut Pendidikan Islam untuk melakukan rekonstruksi epistemologis agar tetap relevan tanpa kehilangan identitas keislamannya. Persoalan utama bukan sekadar bagaimana memasukkan ilmu modern ke dalam pendidikan Islam, tetapi bagaimana membangun hubungan yang konstruktif antara wahyu, akal, pengalaman spiritual, ilmu pengetahuan, dan realitas sosial. Artikel ini bertujuan menganalisis konstruksi epistemologi pendidikan Islam melalui dialog antara konsep wahyu, akal, integrasi ilmu, serta perkembangan pedagogi kontemporer. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis dan kritis terhadap artikel-artikel ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa epistemologi pendidikan Islam perlu bergerak dari paradigma dikotomis menuju paradigma integratif. Wahyu berfungsi sebagai sumber orientasi dan nilai, akal sebagai instrumen analisis, ilmu empiris sebagai sarana memahami realitas, sedangkan pengalaman pendidikan menjadi ruang aktualisasi nilai. Pemikiran Ibn Sīnā, al-Ghazālī, dan Ibn Taymiyyah menunjukkan adanya variasi dalam memahami relasi wahyu dan akal, tetapi ketiganya dapat dibaca sebagai sumber penting bagi pengembangan epistemologi pendidikan Islam. Dalam konteks kontemporer, integrasi ilmu, pedagogi naratif, pedagogi liberatif, serta pembentukan lingkungan pendidikan berbasis hikmah menjadi strategi penting untuk melahirkan peserta didik yang kritis, berkarakter, dan memiliki kesadaran transendental. Dengan demikian, rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam tidak berarti mengislamisasi ilmu secara formal, melainkan membangun kesatuan orientasi pengetahuan yang berlandaskan tauhid, kemaslahatan, keadilan, dan pengembangan manusia secara utuh.
Copyrights © 2026