Penelitian ini mengkaji persepsi toxic masculinity di kalangan mahasiswa Batak Toba di Kota Medan. Fokus penelitian adalah pada ketegangan antara nilai budaya patrilineal yang kuat dan arus modernitas yang ada di kampus. Nilai tradisional Batak Toba seperti hamoraon (kekayaan), hagabeon (keturunan), dan hasangapon (kehormatan) secara historis membentuk standar maskulinitas yang kaku, termasuk tuntutan untuk mendominasi, menekan emosi, dan superioritas gender. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mahasiswa Batak Toba memahami, menegosiasikan, dan membangun kembali identitas maskulinitas mereka ketika berhadapan dengan isu kesetaraan gender di ruang akademis. Dengan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi serta teknik analisis Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), penelitian ini melakukan wawancara mendalam dengan mahasiswa Batak Toba berusia 18–25 tahun yang kuliah di Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan mengalami negosiasi identitas yang rumit. Mereka mengakui beberapa praktik budaya sebagai toxic, tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai tertentu dalam identitas kultural mereka. Pengalaman merantau di kota menghasilkan perubahan persepsi yang signifikan, terutama terkait peran gender dan kebebasan berekspresi. Penelitian ini menambah literatur sosiologi gender dengan perspektif khusus tentang maskulinitas etnis dalam konteks urban Indonesia.
Copyrights © 2026