Penelitian ini diarahkan untuk merekonstruksi pemahaman mengenai konsep imago Dei serta mandat pengelolaan ciptaan dalam Kejadian 1–2 melalui perspektif ekoteologi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan kerangka eksegetikal integratif, yang mengombinasikan analisis semantik terhadap istilah Ibrani רָדָה (rādāh) dan כָּבַשׁ (kāḇaš), analisis naratif, pendekatan intertekstual, serta sintesis teologis. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa rādāh tidak merujuk pada bentuk dominasi yang represif, melainkan pada otoritas representasional dalam kerangka imago Dei, sementara kāḇaš dipahami sebagai pengelolaan potensi ciptaan dalam tatanan yang telah dinyatakan baik. Hasil ini menegaskan bahwa mandat budaya dalam Kejadian 1–2 bersifat relasional dan tidak memberikan legitimasi bagi eksploitasi terhadap alam. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa pemisahan antara dominion dan stewardship merupakan konstruksi hermeneutik modern yang tidak secara eksplisit bersumber dari teks biblika. Dengan demikian, manusia sebagai gambar Allah dipahami sebagai wakil yang memikul tanggung jawab dalam relasi dengan Allah, sesama, dan ciptaan. Penelitian ini memberikan kontribusi teologis dengan memperkuat landasan eksegetikal bagi pengembangan ekoteologi yang kontekstual dalam merespons krisis ekologis global.
Copyrights © 2026