Penyakit hawar padi merupakan ancaman besar bagi keberhasilan produksi padi karena kemampuannya menginfeksi semua tahap pertumbuhan tanaman, mulai dari fase vegetatif yang bermanifestasi sebagai hawar daun hingga fase generatif berupa hawar leher, yang mengakibatkan hilangnya hasil panen hingga 70%. Oleh karena itu, diperlukan penelitian komprehensif untuk mengembangkan strategi yang efektif dalam mengendalikan penyakit hawar padi. Pengujian patogenisitas merupakan tahap kritis dalam penelitian pengelolaan penyakit hawar di lapangan, sehingga penting untuk menyebarkan sumber inokulum yang paling sesuai untuk studi di tanaman . Hasil uji patogenisitas menunjukkan bahwa sumber inokulum secara signifikan mempengaruhi timbulnya gejala dan tingkat kejadian penyakit. Inokulum yang berasal langsung dari malai yang terinfeksi hawar menunjukkan munculnya gejala paling awal, yaitu 8 hari setelah inokulasi. Sebaliknya, isolat yang dikultur pada agar kentang dekstrosa (PDA) menunjukkan gejala pertama pada 18 hari setelah inokulasi, sedangkan isolat yang ditumbuhkan pada agar oatmeal (OMA) dan media ekstrak gula agar beras menunjukkan masa inkubasi yang lebih lama, sekitar 35 hari. Insidensi penyakit tertinggi tercatat pada perlakuan PDA (84%), diikuti oleh ekstrak gula agar beras (68%), malai yang terinfeksi penyakit blas (64%), dan OMA (28%). Hasil ini menunjukkan bahwa media pertumbuhan memainkan peran penting dalam menentukan virulensi patogen. Kata kunci: penyakit hawar padi, uji patogenisitas, masa inkubasi, kejadian penyakit
Copyrights © 2026