Penyandang disabilitas tuli masih kerap mengalami stigma dan diskriminasi yang berdampak pada terbatasnya akses pendidikan dan pekerjaan bagi mereka. Menyikapi hal ini, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit VI Balongan melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) melalui Program Pemberdayaan Inklusi Teman Istimewa (Perintis) yang menghasilkan Kedai Kopi Teman Istimewa (KTI) sebagai wadah praktik kewirausahaan bagi komunitas tuli di Indramayu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dalam proses pemberdayaan penyandang disabilitas tuli pada Program Perintis, khususnya melalui lima tahapan ABCD yaitu collecting stories, forming a core group of organizers, mapping the capacities and assets, mobilizing assets for community development, dan leveraging activities and resources. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi non-partisipan, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan urutan penerapan dua tahap awal ABCD, di mana forming a core group of organizers dilakukan lebih dulu daripada collecting stories akibat status program sebagai inisiatif CSR yang top-down. Meskipun demikian, tiga tahap selanjutnya diterapkan secara bertahap dan partisipatif, ditandai dengan pergeseran pengelolaan operasional KTI dari kelompok inti pengorganisir kepada teman tuli sebagai barista, sehingga teman tuli berperan aktif sebagai aktor pemberdayaan alih-alih sekadar penerima bantuan.
Copyrights © 2026