Penyiraman tanaman yang dilakukan secara manual tanpa mempertimbangkan kondisi kelembapan tanah secara real-time berpotensi menyebabkan overwatering maupun underwatering yang berdampak pada pertumbuhan tanaman serta pemborosan air. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan smart irrigation system berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan ESP32 dengan sensor kelembapan tanah sebagai parameter utama, serta didukung sensor pH tanah, DS18B20 untuk suhu tanah, dan DHT11 untuk suhu dan kelembapan udara. Sistem dirancang untuk menjaga kelembapan tanah pada rentang optimal 60–75% dan terintegrasi dengan platform ThingSpeak untuk monitoring jarak jauh. Pengujian dilakukan selama 30 hari dengan membandingkan metode penyiraman manual dan otomatis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode manual menghasilkan fluktuasi kelembapan yang lebih tinggi, sedangkan sistem otomatis mampu menjaga kestabilan kelembapan tanah dengan penyiraman selektif berbasis set point. Pada kondisi pengujian, sistem membutuhkan rata-rata 450 mL air untuk mencapai kelembapan 75% pada media tanam berukuran 90 × 31 × 28 cm, serta menunjukkan efisiensi penggunaan air hingga 91% dibandingkan metode manual. Dengan demikian, sistem yang dirancang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air serta menjaga kestabilan kondisi tanah secara lebih adaptif dan terkontrol.
Copyrights © 2026