Adopsi HTTPS/TLS secara luas menyebabkan metode deteksi ancaman berbasis inspeksi payload menjadi tidak efektif, sementara serangan Distributed Denial of Service (DDoS) dan Port Scanning tetap menjadi ancaman utama ketersediaan Server Web. Penelitian ini mengembangkan sistem deteksi dan forensik yang bekerja hanya pada metadata trafik terenkripsi tanpa dekripsi payload, dengan menggabungkan metrik temporal (Packet Per Second dan Inter-Arrival Time) dan metrik statistik (entropi Shannon alamat IP sumber dan Port tujuan) melalui rule-based multi-metric fusion. Sistem dikembangkan menggunakan Security Policy Development Life Cycle (SPDLC) dan diuji pada Server Web HTTPS/TLS berbasis Linux, dilengkapi mitigasi otomatis Iptables dan log forensik berformat JSON. Evaluasi menggunakan confusion matrix pada 233 window trafik menghasilkan akurasi 88,41%, dengan deteksi Port Scanning mencapai precision 100% dan recall 95,65%, sedangkan deteksi DDoS/DoS memperoleh precision 83,87% dan recall 55,32% akibat mitigasi pada level penyedia layanan. Validasi pada empat berkas dataset publik CIC-DDoS2019 menghasilkan rata-rata akurasi 90,35% dan precision 99,45%, menunjukkan kemampuan generalisasi sistem. Hasil ini membuktikan bahwa pendekatan multi-metric fusion efektif mendeteksi dan mendokumentasikan dua jenis ancaman jaringan secara simultan pada trafik terenkripsi tanpa mengorbankan privasi data pengguna.
Copyrights © 2026