Perawat IGD mengalami sebagian besar dari berbagai gejala psikologis. Dampaknya perawat IGD merasakan gangguan kesehatan fisik dan kesehatan mental yaitu sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, depresi dan gangguan kecemasan umum. Dampak lain yang dirasakan yaitu penurunan produktivitas ditandai dengan kecemasan mengganggu konsentrasi dan kemampuan berpikir kritis untuk membuat keputusan klinis cepat dan tepat, strategi kopingnya kurang, sulit mengelola stres dan tekanan di IGD, kesalahan pemberian obat, kurang mampu menujukkan empati yang mempengaruhi interaksi perawat dan pasien atau salah penanganan pasien dapat membahayakan keselamatan pasien. Tujuan penelitian menganalisis faktor - faktor yang berhubungan dengan kecemasan perawat IGD dalam penanganan pasien gawat darurat pada RSUD di Kabupaten Sumba Barat. Menggunakan desain analitik observasional melalui pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 55 perawat IGD dengan teknik total sampling. Penelitian ini melibatkan 2 Rumah Sakit di Kabupaten Sumba Barat. Hasil Uji korelasi Spearman Rank menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia (p = 0,000), jenis kelamin (p = 0,001), lama kerja (p = 0,000), motivasi kerja (p = 0,000), resiliensi (p = 0,000) dengan kecemasan perawat IGD dalam penanganan pasien gawat darurat. Uji regresi linier berganda didapatkan variabel paling dominan berhubungan dengan kecemasan adalah resiliensi dengan nilai coefficient β -0,316. Resiliensi yang tinggi mengarah pada kemampuan untuk beradaptasi secara positif. Pengembangan resiliensi menjadi prioritas mempersiapkan tenaga kesehatan menghadapi krisis dan mengurangi masalah kesehatan mental di masa mendatang. Ini dapat dicapai dengan menyediakan layanan perawatan psikologis yang sesuai dengan kebutuhan individu, serta memberikan dukungan sosial dan sumber daya yang dibutuhkan. Dapat disimpulkan resiliensi merupakan faktor paling dominan berhubungan dengan kecemasan perawat dalam penanganan pasien gawat darurat.
Copyrights © 2026