Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perlawanan perempuan pada masa Kerajaan Mataram di Indonesia dalam Film Rara Mendut dengan fokus utama pada peran perempuan dalam bidang ekonomi dan politik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hegemoni Antonio Gramsci dan interseksionalitas Kimberle Crenshaw. Penelitian ini menunjukkan bahwa perlawanan perempuan di kerajaan dilakukan dengan halus tanpa syarat yang mengikutinya, mempengaruhi keputusan raja dalam politik dan ekonomi. Perlawanan juga diwarnai dengan berbagai identitas yang melekat pada diri perempuan secara bersamaan. Hasil penelitian menyoroti pola baru terkait perlawanan terhadap budaya patriarki, yang masih relevan dengan konteks zaman sekarang. Pertama, hegemoni memunculkan kesadaran perempuan terhadap posisinya melalui perspektif interseksionalitas. Kedua, kesadaran ini membangun perlawanan perempuan. Ketiga, tindakan perlawanan perempuan menghasilkan pola baru dalam peran mereka di bidang politik dan ekonomi. Kontribusi utama artikel ini adalah menemukan pola baru untuk memahami peran dan fungsi perempuan di bidang politik dan ekonomi dalam konteks Kerajaan Mataram. Artikel ini mengungkapkan simbol dan strategi yang digunakan perempuan untuk mendekati raja, sementara kontra-hegemoni mereka, meskipun dibatasi oleh norma ketimuran, mampu mengubah keadaan. Temuan penelitian ini berpotensi digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran fiksi, khususnya karya yang berlatar sejarah. Metode yang disarankan adalah Project-Based Learning dan diskusi analitis berbasis teks dan media. Peserta didik dapat diarahkan untuk menonton film Rara Mendut secara kritis, mengidentifikasi simbol dan strategi perlawanan tokoh perempuan, mengaitkan temuan tersebut dengan teori hegemoni dan interseksionalitas, serta membandingkan representasi perempuan di film dengan realitas sejarah dan isu sosial masa kini. Pendekatan ini memungkinkan pembelajaran fiksi tidak hanya mengkaji unsur intrinsik dan ekstrinsik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis terhadap relasi gender, kekuasaan, dan budaya patriarki.
Copyrights © 2025