Penelitian ini mengkaji peran busana sebagai simbol status sosial Muslim pribumi pada awal abad ke-20 di Hindia Belanda. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana pilihan, bentuk, dan gaya berpakaian menjadi representasi identitas, hierarki sosial, serta respons terhadap pengaruh politik dan budaya kolonial. Metode yang digunakan adalah analisis historis-kultural dengan menelaah arsip kolonial, foto-foto dokumenter, catatan perjalanan, dan karya sastra sezaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa busana tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga sebagai penanda kelas sosial, keislaman, dan afiliasi politik. Pengaruh kolonial memunculkan diferensiasi yang jelas antara pakaian golongan bangsawan, ulama, pedagang, dan rakyat, baik melalui bahan, warna, maupun aksesori yang dikenakan. Temuan ini menegaskan bahwa busana berperan sebagai media komunikasi non-verbal yang kompleks, mencerminkan dinamika interaksi antara budaya pribumi, Islam, dan kekuasaan kolonial.
Copyrights © 2025