Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan signifikan dalam praktik penerjemahan, khususnya penerjemahan teks sastra seperti puisi Arab yang kaya akan makna budaya, metafora, dan estetika. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis ideologi dan soft translation di era kecerdasan buatan pada puisi Wa Naḥnu Nuḥibbu al-Ḥayāta karya Maḥmūd Darwīsh dengan menggunakan alat bantu penerjemahan berbasis kecerdasan buatan (AI). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif komparatif dengan pendekatan analisis teks secara mendalam, yang menyoroti perbandingan antara hasil terjemahan manusia dan hasil terjemahan mesin dalam mempertahankan unsur estetis dan budaya teks sumber. Peneltitian ini berpijak pada teori ideologi penerjemahan yang dikemukakan oleh Lawrence Venuti, terutama dalam membedakan antara pendekatan domestikasi dan foreignisasi dalam konteks penerjemahan sastra. Selain itu, metode penerjemahan dikaji menggunakan kerangka teori dari Peter Newmark, yang mengklasifikasikan metode berdasarkan orientasi terhadap teks sumber atau teks sasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan adaptif berperan penting dalam menggunakan kecerdasan buatan pada teks-teks sastra secara kritis, terutama dalam hal pemilihan diksi, struktur bahasa, dan interpretasi simbolik. Temuan ini menegaskan perlunya intervensi manusia dalam proses penerjemahan mesin untuk menjaga keaslian dan keindahan teks sastra. Implikasi penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan metode penerjemahan sastra yang efektif di era digital, serta meningkatkan pemahaman tentang peran teknologi AI dalam praktik penerjemahan puisi.
Copyrights © 2025