Pada awal abad ke-20, modernitas kolonial membentuk wajah kota di Hindia Belanda melalui ekspansi gaya hidup Barat, komersialisasi hiburan, dan terbukanya ruang publik baru. Dalam konteks ini, praktik kedermawanan Muslim urban mengalami transformasi signifikan dengan munculnya hiburan amal, termasuk Pasar Derma sebagai bentuk kreatif dan populer untuk menggalang dana. Artikel ini menganalisis bagaimana Pasar Derma menjadi arena adaptasi budaya Muslim terhadap hegemoni modernitas kolonial. Dengan menggunakan pendekatan historis-kualitatif dan teori hegemoni budaya Antonio Gramsci, penelitian ini menelusuri praktik hiburan amal dari tahun 1910 hingga 1935 melalui pemberitaan surat kabar bahasa Melayu dan Belanda. Temuan menunjukkan bahwa Pasar Derma menjadi ajang penggalangan dana dan ruang diskursif tempat nilai-nilai modernitas dinegosiasikan dan dimodifikasi sesuai kepentingan lokal. Muslim urban mengadaptasi elemen hiburan Barat dan struktur kolonial untuk memperkuat solidaritas komunitas, memperluas akses pendidikan, serta mendukung program keagamaan dan sosial. Pasar Derma tampil sebagai bentuk charitainment yang merepresentasikan versi modernitas pribumi yang bermoral dan inklusif. Studi ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana masyarakat terjajah menegosiasikan dominasi kultural kolonial melalui praktik sosial yang kreatif dan transformatif.
Copyrights © 2025