Penelitian ini mengkaji pemikiran dan metodologi dua ulama besar, Imam Jalāluddīn al-Suyūṭī dan Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, dalam memahami hadis melalui pendekatan asbābul wurūd (sebab kemunculan hadis). Kedua tokoh ini tidak hanya berperan penting dalam pengembangan ilmu sanad dan matan, tetapi juga menekankan urgensi konteks historis dalam memahami makna hadis secara komprehensif. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka dengan menelaah karya primer seperti Fatḥ al-Bārī dan Tadrīb al-Rāwī, serta literatur sekunder kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Suyūṭī melalui al-Luma‘ fī Asbāb al-Wurūd al-Ḥadīth menekankan bahwa hadis harus dipahami sesuai latar sosialnya agar tidak disalahgunakan, sedangkan Ibn Ḥajar menampilkan pendekatan integratif antara sanad, matan, dan konteks historis. Dalam konteks modern, metodologi keduanya relevan untuk mengatasi penyebaran hadis tanpa konteks di media digital, mencegah misinformasi agama, dan meningkatkan literasi keagamaan masyarakat. Penerapan pendekatan asbābul wurūd dalam pendidikan dan dakwah modern dapat menjadi solusi faktual untuk memahami hadis secara kritis, kontekstual, dan moderat.Kata Kunci: al-Suyūṭī, Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, hadis, asbābul wurūd, literasi keagamaan.
Copyrights © 2026