Artikel ini membahas posisi artificial intelligence generatif dalam pendidikan sebagai teknologi yang sekaligus menjanjikan personalisasi belajar dan menimbulkan risiko baru bagi integritas akademik. Kajian ini menggunakan metode studi literatur naratif dan sintesis kebijakan berbasis laporan UNESCO, OECD, World Bank, BPS, dan literatur akademik 2023-2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemanfaatan AI generatif tidak cukup dipahami sebagai alat bantu menulis atau mesin pencari cerdas, tetapi sebagai ekosistem pedagogik yang memerlukan tata kelola etis, literasi AI guru dan mahasiswa, serta desain asesmen yang menilai proses berpikir. Artikel mengusulkan Indeks Kesiapan AI Pendidikan untuk membantu institusi menilai kesiapan teknologi, etika, pedagogik, tata kelola, dan inklusi. Temuan utama menegaskan bahwa AI paling bermanfaat ketika memperkuat peran guru sebagai perancang pengalaman belajar, bukan menggantikan interaksi manusia dalam pendidikan.
Copyrights © 2026