Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di Indonesia bukan semata-mata persoalan ekologi-politis, melainkan sebuah tragedi spiritual yang menuntut pertanggungjawaban teologis. Bagi gerakan Pantekosta, khususnya Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), penekanan yang kuat pada eskatologi dan urgensi penginjilan sering kali melahirkan sikap apatis terhadap pemeliharaan alam. Artikel ini bertujuan untuk mengonstruksi sebuah ekoteologi Pantekosta yang berpijak pada teologi alkitabiah dan selaras dengan doktrin GPdI, guna merespons krisis karhutla. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan literatur teologis, kajian ini menemukan bahwa pneumatologi Pantekosta—khususnya pemahaman tentang Roh Kudus sebagai Spiritus Creator yang memelihara dan memperbarui bumi (Mazmur 104:30)—dapat menjadi motor penggerak bagi praksis ekologis. Transformasi orang percaya melalui Baptisan Roh Kudus seharusnya tidak hanya membuahkan manifestasi karunia rohani, tetapi juga kepekaan ekologis. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa merawat bumi dan mencegah kerusakan lahan adalah bentuk ibadah yang otentik dan partisipasi aktif umat Pantekosta dalam karya penebusan Allah yang paripurna, sembari menantikan langit dan bumi yang baru.
Copyrights © 2026