Bandung Conference Series : Islamic Broadcast Communication
189-198

Analisis Semiotika Nilai Spiritual pada Lirik Lagu “Apa yang Tak Bisa” Karya Band Rumah Sakit (Analisis Roland Barthes)

Imam Taufik (Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Universitas Islam Bandung, Indonesia.)
Chairiawaty (Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Universitas Islam Bandung, Indonesia.)
Bambang Saiful Ma'arif (Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Universitas Islam Bandung, Indonesia.)



Article Info

Publish Date
30 Nov -0001

Abstract

Abstract. This study is motivated by a phenomenon in which university students consume the song “Apa Yang Tak Bisa” by Rumahsakit as emotional relief without connecting it to spiritual reflection. YouTube comments confirm deep resonance: one listener reported renewed gratitude after fourteen childless years of marriage; another cited the song as a reason to keep living. This indicates the song functions as psychospiritual catharsis whose theological content has not been academically examined. Using qualitative descriptive research with Roland Barthes’s semiotic approach, this study analyzes the lyrics through three levels: denotation, connotation, and myth. Results show the song builds a coherent narrative from unfulfilled effort and prayer, through emotional release, to religious surrender. At the myth level, the lyrics dismantle two urban assumptions that sincere effort yields instant results, and that letting go equals defeat replacing them with a theological frame in which every unattained outcome conceals hidden wisdom. Three Islamic spiritual values emerge: tawakal (trust in God after maximal effort), qada (acceptance of present reality), and qadar (confidence in a divinely ordained future). The findings demonstrate that independent popular music can serve as an effective medium of cultural da’wah, conveying Islamic values inclusively without explicit religious jargon. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi fenomena konsumsi lagu “Apa Yang Tak Bisa” karya Rumahsakit di kalangan mahasiswa yang menggunakannya sebagai pelarian emosional, namun jarang menautkannya dengan kesadaran spiritual. Komentar pendengar di YouTube resmi band mengonfirmasi resonansi mendalam: seorang pendengar 14 tahun tanpa anak mengaku syukurnya makin kuat, pendengar lain menyebutnya alasan bertahan hidup. Fenomena ini menunjukkan lagu berfungsi sebagai medium katarsis psikospiritual yang belum dikaji secara akademis. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes, membedah lirik melalui tiga tataran: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil menunjukkan lagu membangun narasi runtut dari ikhtiar yang belum berbuah, pelepasan emosi, hingga penyerahan diri religius. Pada tataran mitos, lagu membongkar dua mitos urban bahwa usaha keras pasti berbuah instan dan melepaskan berarti kalah dan menggantinya dengan bingkai teologis bahwa setiap ketetapan yang tidak tercapai menyimpan hikmah. Tiga nilai spiritual Islam teridentifikasi: tawakal (berserah setelah ikhtiar maksimal), qada (penerimaan realitas), dan qadar (keyakinan pada skenario masa depan yang baik). Temuan membuktikan musik indie dapat menjadi medium dakwah kultural efektif yang menyampaikan nilai Islam secara inklusif tanpa jargon keagamaan.

Copyrights © 0000






Journal Info

Abbrev

BCSIBC

Publisher

Subject

Religion Languange, Linguistic, Communication & Media

Description

Bandung Conference Series Islamic Broadcast Communication (BCSIBC) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Komunikasi Penyiaran Islam dengan ruang lingkup Akhlak Komunikasi Dakwah, Aqidah Komunikasi Dakwah, Beribadah Dakwah, Bulletin Dakwah, ...