Kota Yogyakarta mengalami tekanan urbanisasi yang ditandai dengan meningkatnya luas area terbangun serta menurunnya proporsi ruang terbuka hijau, sehingga berpotensi meningkatkan fenomena Urban Heat Island (UHI) dan kerentanan ekologis perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan ekologis kawasan perkotaan terhadap fenomena Urban Heat Island (UHI) berdasarkan integrasi tata ruang hijau dan pola perkembangan lahan di Kota Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif spasial dengan data multispektral citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS periode 2020, 2023 dan 2025. Analisis dilakukan menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Normalized Difference Built-up Index (NDBI), dan Land Surface Temperature (LST) untuk mengidentifikasi intensitas UHI, kemudian disusun menjadi Indeks Kerentanan Ekologis (IEK) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas UHI meningkat dari 2,3°C pada tahun 2020 menjadi 3,7°C pada tahun 2025, disertai penurunan nilai NDVI dari 0,45 menjadi 0,33 dan peningkatan nilai NDBI dari 0,12 menjadi 0,21. Zona kerentanan ekologis tertinggi terkonsentrasi pada kawasan komersial dan kawasan dengan kepadatan bangunan tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan tutupan vegetasi dan peningkatan area terbangun berkontribusi terhadap peningkatan suhu permukaan, sehingga penguatan ruang terbuka hijau menjadi strategi penting dalam mitigasi UHI dan penyusunan kebijakan penataan ruang yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026