Krisis penurunan cadangan energi fosil global memicu urgensi optimalisasi pemanfaatan limbah lignoselulosa perkebunan, seperti batang kelapa sawit, sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua (G2). Namun, tingginya kadar polimer kaku lignin menjadi hambatan struktural alami yang membatasi aksesibilitas serat karbohidrat struktural selama proses hidrolisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi larutan sodium hydroxide (NaOH) terhadap karakteristik fraksionasi serat batang kelapa sawit guna menentukan kondisi delignifikasi yang paling optimal. Metode penelitian yang digunakan adalah alkali pretreatment menggunakan variasi konsentrasi larutan NaOH murni meliputi 0,5 N; 1,0 N; dan 1,5 N pada suhu 100 °C selama 30 menit, yang dilanjutkan dengan analisis kuantitatif komponen serat bertahap metode Chesson-Datta. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi alkali secara konsisten mendongkrak kemurnian fraksi selulosa secara linier dari kadar kontrol awal 17,87% hingga mencapai optimal sebesar 55,78% pada perlakuan 1,5 N, serta menurunkan kadar hemiselulosa menjadi 23,27%. Sementara itu, penurunan kadar lignin paling optimal dan efisien telah tercapai sejak konsentrasi rendah pada perlakuan 0,5 N, yaitu sebesar 11,17% dibandingkan kadar awal 29,64%. Kesimpulannya, pretreatment alkali efektif mendegradasi matriks pelindung dinding sel dan menghasilkan substrat selulosa berkualitas tinggi yang potensial untuk konversi bioetanol.
Copyrights © 2026