Penelitian ini mengkaji relevansi nilai-nilai introspeksi dalam Lukas 6:37–42 terhadap kematangan afektif frater di Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Poka, Ambon. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang memadukan studi teks biblis dan penelitian lapangan, penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar frater masih menunjukkan kecenderungan menghakimi sesama, kesulitan menerima koreksi fraternal, dan belum membangun kebiasaan introspeksi yang terstruktur. Kajian hermeneutis atas Lukas 6:37–42 mengungkapkan tiga gerakan teologis: larangan menghakimi sebagai undangan introspeksi, perumpamaan penuntun buta sebagai kritik kepemimpinan yang tidak reflektif, dan gambaran selumbar-balok sebagai cermin ketidakmatangan afektif. Temuan lapangan dari wawancara tujuh frater menunjukkan bahwa dimensi afektif dalam proses formasi perlu diperkuat melalui pembinaan refleksi diri yang konsisten, sehingga nilai-nilai biblis dapat menjadi habitus yang hidup dalam komunitas seminari.
Copyrights © 2026