Diare masih menjadi permasalahan kesehatan lingkungan yang belum sepenuhnya tertangani di Indonesia, sebanyak 1.064 kasus dilaporkan di wilayah kerja fasilitas layanan trauma pada Puskesmas di Kota Samarinda pada tahun 2025, jumlah ini merupakan yang terbanyak dibandingkan fasilitas kesehatan masyarakat lainnya di kota tersebut. Pengelolaan sampah rumah tangga yang tidak sesuai standar kesehatan diduga menjadi salah satu determinan lingkungan yang berkontribusi terhadap tingginya insidensi tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kondisi keberadaan sampah rumah tangga dengan kejadian diare di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan desain case control kuantitatif analitik dengan 30 responden kelompok kasus dan 30 responden kelompok kontrol yang dipilih di tiga RT dengan kasus diare tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Trauma Center. Data kondisi sampah dikumpulkan melalui observasi terstruktur menggunakan lembar observasi 10 item, sedangkan data kejadian diare dikumpulkan melalui wawancara berbasis kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan ukuran asosiasi Odds Ratio (OR) dan Confidence Interval (CI) 95%. Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 24 responden (40,0%) yang tinggal di lingkungan dengan keberadaan sampah, 10 orang (33,3%) mengalami diare, sedangkan dari 36 responden (60,0%) yang tinggal di lingkungan tanpa sampah, 20 orang (66,7%) mengalami diare. Menurut penelitian statistik, keberadaan sampah rumah tangga tidak berkorelasi secara signifikan dengan kejadian diare (p = 0,292; OR = 0,571; 95% CI = 0,201–1,624). Kondisi keberadaan sampah rumah tangga secara tunggal tidak terbukti sebagai faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian diare di wilayah ini, sehingga kejadian diare di wilayah tersebut perlu dipahami sebagai kondisi multifaktorial.
Copyrights © 2026