Sistemik lupus eritematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun yang menyerang berbagai sistem tubuh dengan perjalanan klinis dan prognosis yang berbeda-beda. Gejala yang muncul dapat terjadi secara bersamaan, ataupun hanya pada organ tertentu. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah terjadinya kerusakan jaringan yang lebih parah. Respons terhadap pengobatan SLE dapat bervariasi dan sulit diprediksi pada setiap pasien. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dari analisis data klinis pasien serta penatalaksanaan dan respon terhadap terapi yang diberikan. Laporan kasus ini menggambarkan kondisi seorang anak perempuan berusia 14 tahun yang datang dengan keluhan edema pada vulva vagina setelah memulai terapi hidroksiklorokuin (HCQ) selama 1 minggu terakhir. Terapi ini diterima sejak pasien di diagnosis SLE sejak 2 bulan terakhir. Pasien melakukan serangkaian pemeriksaan dan mendapat terapi sesuai dengan kondisi yang dialami. Setelah beberapa hari perawatan, pasien mengalami perbaikan edema dan keluhan lain secara bertahap. Studi ini menunjukkan bahwa pemberian terapi yang sama dapat menimbulkan efek samping yang berbeda pada setiap individu akibat perbedaan kondisi tubuh, riwayat kesehatan, dan respons individu terhadap obat. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi serta penyesuaian terapi secara berkala agar efek samping dapat diminimalkan.
Copyrights © 2026