Penelitian ini berfokus pada analisis kebijakan impor beras Indonesia, yang sering dikritik karena diduga mendistorsi harga domestik dan merugikan petani dalam negeri. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis dampak aktual Kebijakan Impor Beras (KIB) terhadap Kesejahteraan Petani, yang diwakili oleh Nilai Tukar Petani (NTP) dalam periode 2015-2024. Model ini menggabungkan variabel kontrol pasar domestik, yaitu Harga Gabah di Tingkat Petani (HGKP), volume Produksi Beras Domestik (JPB), dan Inflasi (INF). Metodologi yang digunakan adalah regresi linier berganda melalui pendekatan Ordinary Least Square (OLS) berdasarkan data deret waktu bulanan (n=120). Analisis menunjukkan bahwa Kebijakan Impor Beras (KIB) sebagian membawa koefisien negatif tetapi tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap NTP (p=0,7544). Temuan ini menjelaskan bahwa masuknya beras impor tidak secara otomatis merusak kesejahteraan petani; Sebaliknya, kebijakan impor beras berfungsi sebagai alat stabilisasi makro untuk mengamankan stok nasional selama defisit pasokan domestik. Diskusi ini menyoroti bahwa ancaman nyata bagi petani bukanlah volume impor itu sendiri, melainkan kerentanan struktural di dalam pasar domestik. Hal ini dibuktikan oleh HGKP, yang berfungsi sebagai penentu paling dominan dengan dampak positif yang sangat signifikan terhadap NTP (p=0,0000) diikuti oleh JPB (p=0,0007). Implikasi kebijakan menekankan bahwa pemerintah harus mengatur waktu impor secara ketat untuk mencegah beras impor memasuki pasar selama musim panen domestik puncak, sehingga melindungi harga beras lokal.
Copyrights © 2026