Dili Pride Parade 2017 menghadirkan paradoks dalam hubungan agama dan negara di Timor-Leste. Meskipun sekitar 97% penduduknya beragama Katolik dan Gereja Katolik secara resmi menolak hubungan sesama jenis, parade tersebut memperoleh dukungan terbuka dari pemerintah dan berlangsung tanpa penolakan institusional yang berarti. Artikel ini bertujuan menjelaskan mengapa negara yang sangat religius justru mampu mengakomodasi berkembangnya ruang politik bagi komunitas LGBT tanpa mengalami delegitimasi politik. Melalui metode sejarah berbasis analisis dokumen, penelitian ini menelusuri tiga fase historis yang menghubungkan perjuangan anti-kolonial, pembentukan narasi kebangsaan melalui Maubereisme, konsolidasi sekularisme negara, dan berkembangnya ruang politik bagi komunitas LGBT. Penelitian ini menunjukkan bahwa Dili Pride Parade 2017 bukan merupakan titik awal perubahan politik, melainkan manifestasi historis dari keberhasilan nation-building yang membangun narasi kebangsaan melalui Maubereisme dan kemudian dipertahankan melalui konsensus sekularisme para founding fathers. Temuan ini memperluas kajian mengenai hubungan nation-building, sekularisme, dan difusi norma internasional dengan menunjukkan bahwa keberhasilan internalisasi norma baru bergantung pada narasi kebangsaan yang telah memperoleh legitimasi historis.
Copyrights © 2026