Penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan terus melonjak, khususnya saat perayaan Idul Fitri, berkat kepraktisan, bobot ringan, dan biaya murahnya. Namun, bahan ini menimbulkan risiko besar bagi lingkungan dan kesehatan karena sulit terurai, serta dapat mengeluarkan zat kimia beracun dan mikroplastik ke alam. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pola penggunaan styrofoam pada Idul Fitri beserta dampaknya terhadap lingkungan, terutama kualitas air di Abepura, Kota Jayapura. Pendekatan penelitian bersifat deskriptif kuantitatif dengan pengambilan sampel acak (random sampling). Sampel melibatkan 35 rumah tangga yang menyambut tamu saat Lebaran. Data dikumpul melalui pengamatan langsung terhadap pemakaian styrofoam dalam kegiatan jamuan. Temuan menunjukkan 71,4% responden memakai styrofoam, sementara 28,6% tidak. Dominasi ini memperburuk akumulasi sampah yang tahan lama dan berpotensi mencemari perairan. Styrofoam berubah menjadi mikroplastik serta melepas senyawa seperti stirena, yang merusak biota air dan manusia lewat bioakumulasi. Secara keseluruhan, tingginya penggunaan styrofoam di Idul Fitri menjadi pemicu utama polusi lingkungan di Jayapura. Oleh sebab itu, perlu dilakukan sosialisasi, penggantian dengan wadah berkelanjutan, dan peningkatan pengolahan sampah guna menjaga kelestarian lingkungan serta ekosistem perairan.
Copyrights © 2026