Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana novel Bungkam Suara merepresentasikan kebebasan berbicara melalui “Hari Bebas Berbicara” dan bagaimana kebenaran diproduksi dan diregulasi dalam wacana “Hari Bebas Berbicara” di dalam novel Bungkam Suara. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan tipe deskriptif, sementara teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah analisis wacana kritis model Michel Foucault yang fokus kepada 2 hal, yaitu representasi dan misrepresentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui “Hari Bebas Bicara” yang diperoleh hanya dalam satu hari setiap tahun, penulis memperlihatkan bahwa kebebasan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya netral. Kebebasan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan kebenaran, mengungkap ketidakadilan, dan melawan penindasan, tetapi pada saat yang sama juga dapat disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah, kebencian, serta membangun opini yang menyesatkan. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan berbicara selalu berada dalam hubungan yang erat dengan kekuasaan dan kepentingan tertentu. Sementara kebenaran digambarkan sebagai hasil pertarungan berbagai wacana yang saling bersaing untuk memperoleh legitimasi di ruang publik. Tokoh di dalam novel memperlihatkan bahwa suara yang dianggap benar seringkali dipengaruhi oleh posisi sosial, kekuasaan, dan kemampuan dalam mengendalikan informasi.
Copyrights © 2026