Tradisi tari Melayu merupakan bagian dari sistem budaya yang mengintegrasikan nilai adat, agama, sejarah, estetika, dan identitas masyarakat. Dalam budaya kontemporer, tari Melayu tetap bertahan sekaligus mengalami perubahan bentuk, fungsi, dan makna akibat institusionalisasi, komodifikasi, digitalisasi, dan globalisasi budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi eksistensi dan transformasi tari Melayu di Indonesia serta merumuskan strategi pelestarian yang mampu menyeimbangkan autentisitas dan adaptasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan wawancara dengan seniman, budayawan, serta akademisi tari Melayu. Data diolah melalui analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Melayu mengalami kondisi ambivalen. Institusionalisasi dan digitalisasi memperluas ruang pertunjukan, dokumentasi, regenerasi, dan pengenalan budaya. Akan tetapi, logika industri budaya mendorong pemadatan durasi, penyederhanaan koreografi, modifikasi musik, standardisasi kostum, serta pergeseran orientasi dari ritualistik-spiritual menuju representatif-visual. Transformasi tersebut menghasilkan kondisi survival without essence, yaitu keberlanjutan bentuk pertunjukan yang tidak selalu diikuti transmisi pengetahuan historis, filosofis, dan spiritual. Oleh karena itu, pelestarian tari Melayu perlu dilakukan melalui preservasi dinamis yang mengintegrasikan komunitas, pendidikan, teknologi digital, kebijakan negara, dan keberlanjutan ekonomi. Pelestarian tidak hanya diarahkan pada keberlangsungan bentuk, tetapi juga pada kesinambungan nilai, pengetahuan, dan konteks budaya yang melandasinya
Copyrights © 2026