Perceraian orang tua berdampak nyata pada kondisi psikologis dan pola interaksi sosial anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penerimaan diri, pembentukan konsep diri, dan adaptasi komunikasi anak dari keluarga bercerai di lingkungan sekolah serta masyarakat. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan Teori Interaksionisme Simbolik, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima partisipan remaja, dewasa muda di Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan diri tercapai ketika anak mampu memisahkan konflik orang tua dari identitas pribadinya. Konsep diri positif terbentuk berkat adanya dukungan sosial dan empati lingkungan sebagai cermin sosial. Selain itu, adaptasi komunikasi dilakukan secara fleksibel dan selektif, di mana dukungan emosional terbukti lebih berpengaruh daripada dukungan materi dalam menciptakan keterbukaan interaksi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep diri dan adaptasi komunikasi anak pasca perceraian sangat ditentukan oleh kualitas interaksi sosial sehari-hari.
Copyrights © 2026