Studi ini dilakukan di DAS Mampang yang memiliki kerentanan banjir tinggi akibat urbanisasi masif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak perubahan tutupan lahan terhadap debit limpasan permukaan melalui studi komparatif implementasi regulasi tata ruang (RTRW Kota Depok dan RDTR Provinsi DKI Jakarta). Analisis dilakukan dengan memodelkan nilai CN historis periode 2000–2024 serta peta rencana tata ruang menggunakan metode SCS-CN yang diintegrasikan ke dalam model HEC-HMS. untuk mengukur peningkatan debit limpasan puncak sebagai konsekuensi dari perubahan fisik lahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tren peningkatan nilai CN yang konsisten, dari 82,830 (tahun 2000) melonjak menjadi 89,853 (tahun 2024). Temuan krusial menunjukkan bahwa kondisi eksisting tahun 2024 telah melampaui ambang batas nilai CN rencana (89,813) yang diproyeksikan sebagai instrumen pengendalian jangka panjang hingga tahun peruntukannya. Fenomena ini membuktikan terjadinya rekonstruksi fisik yang berjalan lebih cepat daripada konsepsi regulasi, sehingga DAS Mampang mencapai "titik jenuh" hidrologi secara prematur. Simulasi HEC-HMS mengonfirmasi dampak tersebut, di mana debit banjir puncak kala ulang 25 tahun meningkat dari 188,6 m³/s (tahun 2000) menjadi 225,9 m³/s (tahun 2024), atau naik sebesar 37,3 m³/s (19,8%) selama 24 tahun. Lonjakan ini membuktikan secara kuantitatif bahwa kapasitas pengendalian banjir yang dirancang berdasarkan dokumen tata ruang berisiko mengalami kegagalan fungsi akibat deviasi pemanfaatan lahan aktual. Hal ini membuktikan bahwa perubahan lahan aktual melampaui regulasi, sehingga diperlukan peninjauan berkala tata ruang berbasis daya dukung air serta penerapan infrastruktur biru-hijau.
Copyrights © 2026