Kekeringan merupakan bencana alam yang terjadi secara bertahap dan dalam durasi panjang hingga datangnya musim penghujan sehingga dampaknya terasa sangat luas. Salah satu faktor krusial yang memicu kondisi ini adalah fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO). Mengingat wilayah Sulawesi Barat telah berulang kali terdampak kekeringan akibat anomali El Nino, maka analisis mendalam mengenai pengaruh ENSO terhadap tingkat kekeringan di wilayah tersebut menjadi sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu Standardized Precipitation Evapotranspiration Index (SPEI) dan Standardized Precipitation Index (SPI) dalam menganalisis kekeringan. Data yang digunakan adalah data curah hujan dan suhu dari 49 lokasi pos hujan di Sulawesi Barat, termasuk data indeks ONI dari NOAA. Hasil perhitungan menunjukan peluang kondisi kering hingga sangat kering pada skala 1 bulanan mencapai 69% berdasarkan SPI dan 41% berdasarkan SPEI sementara pada skala 3 bulanan SPI menghasilkan peluang sebesar 63%dan 53% pada SPEI. Fenomena El Nino memberikan dampak paling signifikan pada periode Juli-Oktober (skala 1 bulanan) dan September-November (skala 3 bulanan). Pos Tanduk Kalua dan Limboro diidentifikasi sebagai lokasi referensi yang paling konsisten merespons kejadian ENSO di Sulawesi Barat. Kata Kunci: Kekeringan; SPEI; SPI; ENSO; Sulawesi Barat.
Copyrights © 2026