Latar belakang. Sepsis neonatorum awitan dini (SNAD) masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus di negara berkembang. Defisiensi vitamin D diduga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi berat, namun penelitian terkait di Indonesia masih terbatas.Tujuan. Menilai hubungan kadar vitamin D serum dengan kejadian dan luaran SNAD pada neonatus cukup bulan.Metode. Studi kasus-kontrol di NICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado (Agustus 2024–Januari 2025) melibatkan 41 neonatus cukup bulan usia 0–3 hari (21 SNAD, 20 kontrol). Kadar vitamin D diukur dengan ELISA. Analisis menggunakan uji t, chi-kuadrat, dan regresi logistik multivariat (konvensional dan Bayesian MCMC).Hasil. Rerata kadar vitamin D lebih rendah pada kelompok SNAD dibandingkan kontrol (16,0±6,0 vs 27,3±6,5 ng/mL; p<0,001). Defisiensi vitamin D (<20 ng/mL) ditemukan pada 81% kasus. Regresi logistik menunjukkan setiap kenaikan 1 ng/mL vitamin D menurunkan odds SNAD sebesar 26% (aOR 0,74; IK95% 0,56–0,98; p=0,034), dikonfirmasi MCMC (aOR 0,85; IK95% 0,83–0,86; p=0,016). Defisiensi vitamin D meningkatkan risiko SNAD secara bermakna. Tidak ditemukan hubungan dengan mortalitas (p=0,074).Kesimpulan. Kadar vitamin D rendah berhubungan dengan peningkatan kejadian SNAD, namun tidak dengan mortalitas. Penelitian prospektif dengan sampel lebih besar dan pengendalian faktor perancu diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan ini.
Copyrights © 2026