Budaya patriarki masih memengaruhi posisi dan peran perempuan dalam masyarakat Muslim, termasuk melalui pemahaman terhadap teks-teks keagamaan. Persoalan tersebut menjadi penting karena sebagian pemahaman mengenai perempuan terbentuk dalam konteks sosial dan budaya yang didominasi laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep posisi perempuan dalam pemikiran Fatima Mernissi, kritiknya terhadap dominasi patriarki dalam pemikiran Islam, serta relevansi pemikirannya terhadap budaya patriarki kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer berupa karya Fatima Mernissi, khususnya Beyond the Veil dan The Veil and the Male Elite: A Feminist Interpretation of Women’s Rights in Islam, sedangkan sumber sekunder berupa buku, jurnal, artikel, dan penelitian terdahulu yang relevan. Analisis dilakukan menggunakan hermeneutika Hans-Georg Gadamer melalui konsep fusion of horizons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mernissi memandang perempuan sebagai manusia yang memiliki martabat, hak, dan kesempatan yang setara dengan laki-laki, sedangkan ketidaksetaraan perempuan lebih banyak berkaitan dengan konstruksi sosial, budaya patriarki, dan penafsiran keagamaan dalam konteks sejarah tertentu. Kritik Mernissi terhadap hadis kepemimpinan perempuan, pemaknaan hijab, dan dominasi laki-laki dalam tafsir menunjukkan pentingnya membaca teks keagamaan secara historis dan kontekstual. Pemikirannya tetap relevan dalam masyarakat kontemporer karena membuka ruang bagi pembacaan keagamaan yang lebih kritis, adil, dan inklusif serta mendorong keterlibatan perempuan dalam produksi pengetahuan keagamaan.
Copyrights © 2026