Latar Belakang: Stroke hemoragik merupakan kondisi gawat darurat akibat pecahnya pembuluh darah otak yang memicu hematoma dan edema serebral. Kondisi ini dapat menyebabkan Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial yang berisiko menimbulkan herniasi dan kematian. Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial (I.06194) diperlukan sejak fase akut untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik dan mencegah cedera otak sekunder. Tujuan: Menggambarkan dan menganalisis perbandingan penerapan Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial pada pasien stroke hemoragik secara komparatif. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus proses keperawatan kritis. Sampel terdiri atas dua pasien stroke hemoragik di unit Emergency RS X Jakarta Selatan pada 8 Juni–3 Juli 2026, yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi meliputi observasi, tindakan terapeutik, dan kolaborasi, dengan evaluasi Trias Cushing, Trias TIK, dan SpO₂ sebelum dan sesudah intervensi.Hasil: Setelah intervensi, MAP Tn. Y menurun dari 125 menjadi 96 mmHg dan MAP Ny. A dari 167 menjadi 108 mmHg. Muntah Tn. Y teratasi dan nyeri kepala berkurang dari skala FLACC 7/10 menjadi 4/10. Nadi Ny. A meningkat dari 63 menjadi 89 x/menit. Namun, status neurologis belum menunjukkan perbaikan bermakna; Tn. Y mengalami penurunan GCS dari 10 menjadi 9, sedangkan Ny. A tetap GCS 10.Kesimpulan: Manajemen Peningkatan TIK melalui posisi head-up 30°, lingkungan tenang, pencegahan manuver Valsalva, dan kolaborasi diuretik osmotik membantu menstabilkan parameter hemodinamik pada fase akut stroke hemoragik, tetapi respons neurologis tetap dipengaruhi oleh lokasi, luas perdarahan, edema, dan perjalanan penyakit.
Copyrights © 2026