Budidaya perikanan adalah komoditas yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat didaerah pesisir. Provinsi Sulawesi utara dengan luas perairan umum ± 26.500 ha yang berpotensi untuk pengembangan budidaya perikanan. Namun, dengan luasan tersebut belum terlihat pemerataan hasil produksi komoditas perikanan yang menyebabkan ketimpangan perekonomian sehingga perlu menjadi perhatian pemerintah oleh karena itu sangatlah penting untuk membagi daerah berdasarkan hasil produksi budidaya perikanan. Penelitian ini menitik beratkan kepada produksi budidaya perikanan untuk 10 komoditas yang ada di Sulawesi Utara yang bersumber dari data Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara. Tujuan dari penelitian ini untuk membuat klaster daerah berdasarkan jumlah produksi komoditas yang ada menggunakan Metode Fuzzy C-Means dengan meminimalkan jarak antara titik data dengan pusat klaster dimana satu data dapat menjadi bagian dari beberapa klaster, sehingga terlihat pentingnya pengaruh pengukuran jarak terhadap metode ini. Dengan menggunakan beberapa pengukuran jarak yaitu euclidean, manhattan, minkowsky, chebysev dan canberra distance akan dievaluasi kinerja dari klaster menggunakan davies-bouldin index. Hasil penelitian menunjukkan nilai DBI yang normal terdapat pada jarak euclidean, manhattan, minkowsky dan chebysev dengan jumlah klaster sebanyak 5-klaster. Nilai DBI dan waktu eksekusi pada 5-klaster secara berurutan adalah 0.0087, 0.0097, 0.0087, 0.0087 dan 1.2843 detik, 1.3856 detik, 1.1778 detik, 1.2843 detik untuk euclidean, manhattan, minkowsky, chebysev distance. Dari klaster yang terbentuk terdapat dua jenis komoditas yang berada pada seluruh klaster yaitu ikan Nila dan ikan Mas, sedangkan untuk jenis komoditas Rumput Laut hanya berada pada dua klaster lainnya dan terdapat 6 jenis komoditas dengan nilai produksi yang sangat kecil dan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah Sulawesi Utara yaitu ikan patin, lele, bandeng, karapu, udang dan ikan lainnya. Abstract Aquaculture is a commodity that can improve the standard of living of coastal communities. North Sulawesi Province has approximately 26,500 hectares of public waters with potential for aquaculture Development. However, despite this vast area, there is no evidence of equitable distribution of fishery products, which has led to economic inequality. Therefore, the government needs to divide the region based on fishery production. This study focuses on the production of 10 fishery commodities in North Sulawesi, based on data from the North Sulawesi Central Statistics Agency. The purpose of this study is to create regional clusters based on the production volumes of existing commodities using the Fuzzy C-Means Method, which minimizes the distance between data points and cluster centers, allowing one data point to be part of several clusters, thereby highlighting the importance of distance measurement in this method. By using several distance measurements, namely Euclidean, Manhattan, Minkowski, Chebysev, and Canberra distance, the performance of the clusters will be evaluated using the Davies-Bouldin index. The results show that normal DBI values are observed in Euclidean, Manhattan, Minkowski, and Chebyshev distances, with a total of 5 clusters. The DBI values and execution times for 5 clusters are 0.0087, 0.0097, 0.0087, 1.2843, and 1.3856 seconds, respectively. From the clusters formed, there are two types of commodities found in all clusters, namely tilapia and carp, while seaweed is only found in two other clusters. There are six types of commodities with very low production values that require serious attention from the North Sulawesi regional government, namely patin fish, catfish, milkfish, karapu fish, shrimp, and other fish.
Copyrights © 2026