Latar Belakang: Peristiwa hipotermia mengaktifkan mekanisme menggigil, yang meningkatkan aktivitas metabolisme dan otot di atas tingkat normal untuk menghasilkan panas. Selain itu, konsumsi oksigen dan produksi CO2 meningkat 2-3 kali lipat. Hipotermia berdampak negatif pada pasien. Untuk mendapatkan gambaran data awal mengenai kejadian hipotermia pasca-anestesi pada pasien lansia, telah dilakukan studi pendahuluan di RSUD Ajibarang. Berdasarkan data rekam medis pada bulan Februari, diketahui bahwa terdapat 101 pasien lansia yang menjalani operasi dengan general anestesi, sehingga berpotensi mengalami berbagai komplikasi pasca anestesi, salah satunya adalah hipotermia. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian hipotermi, khususnya lama operasi dan jenis operasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lama operasi dan jenis operasi dengan kejadian hipotermi pada pasien lanjut usia pasca general anestesi. Metode Penelitian: Menggunakan metodologi penelitian kuantitatif, desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional antara lama operasi dan jenis operasi dengan kejadian hipotermi. Penelitian dilakukan di RSUD Ajibarang di ruang post anesthesia care unit pada bulan Juni 2026 sampai dengan Juli 2026. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien lansia yang menjalani tindakan operasi dengan general anestesi sebanyak 101 pasien. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Perhitungan besar sampel yang diambil dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin sehingga didapatkan 81 orang. Izin etik penelitian keluar dengan Nomor Registrasi: KEPK/UMP/153/IV/2026. Kesimpulan: Adanya hubungan yang signifikan antara lama operasi dan jenis operasi (enam kategori) dengan kejadian hipotermi pada pasien lansia di RSUD Ajibarang. Kata Kunci: Lama Operasi, Jenis Operasi, Hipotermi, Pasien Lanjut Usia, Pasca General Anestesi
Copyrights © 2026