Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan keberhasilan pengobatan yang sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Identifikasi karakteristik pasien yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan diperlukan sebagai dasar penyusunan strategi peningkatan keberhasilan program penanggulangan TB. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik pasien tuberkulosis dan hubungannya dengan kepatuhan minum obat berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) di RSD Tidore Kepulauan. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data sekunder diperoleh dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) RSD Tidore Kepulauan periode Januari–Desember 2025. Populasi penelitian berjumlah 106 pasien TB dengan teknik total sampling. Analisis karakteristik dilakukan terhadap seluruh pasien, sedangkan analisis hubungan dilakukan pada 93 pasien setelah mengeksklusi pasien yang meninggal dunia. Analisis univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Analisis bivariat menggunakan uji Pearson Chi-square dan Fisher's Exact Test dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar pasien berada pada kelompok usia dewasa (18–59 tahun) (60,4%), berjenis kelamin perempuan (58,5%), dan mengalami TB sensitif obat (96,2%). Sebanyak 40,6% pasien menyelesaikan pengobatan, sedangkan 10,4% mengalami lost to follow-up. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok usia berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan minum obat berdasarkan Fisher's Exact Test (p=0,014), dengan kepatuhan yang lebih tinggi pada kelompok dewasa–lansia dibandingkan anak–remaja. Sementara itu, jenis kelamin (p=0,490) dan jenis tuberkulosis (p=1,000) tidak berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan minum obat. Kelompok usia merupakan karakteristik yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis di RSD Tidore Kepulauan, sedangkan jenis kelamin dan jenis tuberkulosis tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Penguatan edukasi, keterlibatan keluarga, serta optimalisasi peran Pengawas Menelan Obat (PMO) perlu diprioritaskan terutama pada kelompok anak dan remaja untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan.
Copyrights © 2026