Toxic leadership dapat memengaruhi kondisi psikologis pegawai dan berpotensi berdampak pada kinerja, terutama pada organisasi yang memiliki tuntutan kerja tinggi seperti Basarnas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh toxic leadership terhadap kinerja pegawai serta menguji peran motivasi kerja dan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi pada Kantor Pencarian dan Pertolongan Padang dan Mentawai. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan data dari 141 pegawai yang dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares melalui SmartPLS 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic leadership tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kinerja pegawai dengan koefisien jalur 0,046 dan nilai p 0,655. Namun, toxic leadership berpengaruh negatif terhadap motivasi kerja (β=-0,556; p<0,001) dan kepuasan kerja (β=-0,688; p<0,001). Motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai (β=0,524; p<0,001), sedangkan kepuasan kerja tidak berpengaruh signifikan (β=0,106; p=0,442). Pengaruh tidak langsung melalui motivasi kerja signifikan (β=-0,291; p=0,001), sedangkan melalui kepuasan kerja tidak signifikan (β=-0,073; p=0,450). Model menjelaskan 34,2% variasi kinerja pegawai. Temuan menunjukkan bahwa motivasi kerja merupakan mekanisme psikologis utama yang menghubungkan toxic leadership dengan kinerja dalam konteks organisasi pencarian dan pertolongan.
Copyrights © 2026