Kabupaten Gunungkidul menghadapi persoalan kesenjangan digital yang ditandai oleh ketidakseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat. Meskipun Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) telah menjalankan berbagai program, indeks literasi digital masyarakat masih stagnan di angka 56,8 dan 29 desa masih berstatus blank spot. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi yang telah dilakukan Diskominfo Kabupaten Gunungkidul dalam mengurangi kesenjangan digital serta merumuskan strategi yang tepat ke depannya. Pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme digunakan, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui analisis tematik berbantuan NVivo 15, dikombinasikan dengan analisis SWOT dan Tes Litmus berdasarkan kerangka teori kesenjangan digital Van Dijk dan perencanaan strategis Bryson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Diskominfo telah menjalankan strategi pada empat dimensi Van Dijk, yaitu motivational, material, skills, dan usage access, namun implementasinya belum merata akibat keterbatasan jaringan, SDM, dan keterampilan digital masyarakat. Berdasarkan analisis SWOT dan Tes Litmus, strategi prioritas yang tepat adalah: pengembangan sistem informasi publik yang aman dan adaptif, layanan digital inklusif dan hibrida, penguatan kapasitas kelembagaan melalui kolaborasi lintas sektor, serta optimalisasi pemerataan infrastruktur berbasis wilayah prioritas, didukung oleh penguatan literasi digital masyarakat secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026